Lompat ke konten
Home » Blog » Seminar Kelautan Kelompok Studi CMC Acropora UNJ x LEVA : “Mangrove sebagai Benteng Alami Hadapi Ancaman Kenaikan Air Laut”

Seminar Kelautan Kelompok Studi CMC Acropora UNJ x LEVA : “Mangrove sebagai Benteng Alami Hadapi Ancaman Kenaikan Air Laut”

Pada Sabtu, 3 Mei 2025, LEVA diwakili oleh Bella, Nabila, Hanan, Dian dan Lelu berkesempatan untuk hadir dalam acara Seminar Kelautanbertemakan “Mangrove sebagai Benteng Alami Hadapi Ancaman Kenaikan Air Laut” yang diselenggarakan oleh CMC Acropora UNJ, Jakarta Timur, di Gedung K.H Dewantara, Kampus A UNJ. Acara ini menghadirkan dua pakar narasumber yaitu Nathasi Fadhlin yang mana merupakan founder LEVA dan juga Agung Sedayu yang merupakan pemerhati Keanekaragaman Hewan dan Tumbuhan.

Seminar dibuka oleh Pak Agung Sedayu dengan pembahasan berupa Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Ekosistem Mangrove, serta upaya adaptasi dan mitigasi yang dapat dilakukan. Beliau menekankan bahwa ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim, seperti menyerap karbon, melindungi garis pantai, dan menstabilkan sedimen.

Namun, perubahan iklim yang terjadi dapat menimbulkan berbagai ancaman yang mana contohnya adalah kenaikan air laut dan juga dampak perubahan iklim lainnya tersebut dapat berpengaruh terhadap ekosistem mangrove seperti menyebabkan erosi, kerusakan akar, perubahan distribusi spesies, hingga kematian massal mangrove. Untuk menghadapi tantangan ini, Pak Agung memberikan rekomendasi strategi adaptasi dan mitigasi, beberapa diantaranya meliputi; penghapusan stres lingkungan non-iklim, perencanaan yang ketat pada lokasi ber-mangrove, restorasi mangrove, dan edukasi masyarakat.

Seminar dilanjutkan oleh Kak Nathasi Fadhlin, selaku Founder LEVA, yang membawakan materi mengenai Strategi Rehabilitasi dan Pengelolaan Mangrove secara Berkelanjutan. Dalam paparannya, Kak Nathasi membahas pentingnya perencanaan yang matang berdasarkan Roadmap Mangrove Nasional 2021–2030.

Kak Nathasi menjelaskan bahwa rehabilitasi mangrove melibatkan analisis kondisi wilayah, penetapan sasaran berbasis lanskap, penguatan kelembagaan masyarakat, serta pendekatan kolaboratif. Ia juga membahas pentingnya peran semua pihak, termasuk pemerintah, akademisi, masyarakat, hingga sektor swasta dalam mendukung rehabilitasi dan pengelolaan mangrove. Salah satu strategi yang ditekankan Kak Nathasi adalah pelibatan komunitas lokal, yang terbukti berhasil dalam berbagai program LEVA di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.

Setelah penyampaian materi oleh dua narasumber, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dan ditutup oleh penyerahan sertifikat dan juga sesi dokumentasi. Melalui seminar ini, kita diingatkan kembali bahwa upaya rehabilitasi dan pengelolaan ekosistem mangrove bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau komunitas konservasi semata, tetapi memerlukan kolaborasi dari semua lapisan masyarakat. Dengan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan berbagai pihak, kita dapat menjaga kelestarian mangrove sebagai benteng alami pesisir sekaligus bagian penting dalam mitigasi perubahan iklim untuk keberlanjutan lingkungan di masa depan.

Penulis: Salsa Fitria Bella

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *