Secara geografi Pantai Tanjung Pakis berada di perairan pantai utara Jawa (Pantura). Tepatnya berada di Desa Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Bersebelahan dengan Kabupaten Bekasi.
Keberadaan hutan mangrovenya membentang mulai dari batas hilir sungai Citarum melewati Pesisir Tanjung Pakis dan wilayah Jawa Barat lainnya ke arah barat. Semakin lama kondisinya memprihatinkan karena mengalami kerusakan. Beberapa faktor diantaranya; alih fungsi lahan menjadi tambak, pelabuhan dan abrasi. Hal ini yang menjadi perhatian kami untuk berkunjung dan melihat kondisinya secara langsung pada hari Rabu, 2 Juli 2025 bersama tim LEVA (Hima, Nathasi, Bela, Nia, Rizki dan Diego). Kami berangkat dari Rumah LEVA pukul 08.00 wib, perjalanan menuju Tanjung Pakis melewati permukiman yang masih terasa seperti di desa. Kami masih bisa menemukan hamparan sawah yang membentang di sepanjang jalan utama, gembala hewan ternak seperti kambing, dan domba, bahkan tak jarang di sepanjang kanal sungai ada anak-anak yang berenang dan ibu-ibu yang mencuci pakaian meski kondisi airnya memprihatinkan. Sampah-sampah menumpuk sehingga aliran air tersumbat menyebabkan air meluap dan banjir.

Kami tiba di Pantai Tanjung Pakis pukul 11.00 wib, tempat ini adalah pantai publik yang dapat diakses oleh umum dengan tiket masuk Rp 5,000 per kendaraan. Di area pantai kami belum menemukan ekosistem mangrove. Sepajang mata memandang hanya. terdapat pohon-pohon cemara laut dan waru.
Ombak di Pantura cenderung relatif tenang dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Hal ini disebabkan oleh karakteristik Laut Jawa yang tenang dan pengaruh pasang surut. Namun, ada kalanya terjadi ombak besar yang disebabkan oleh faktor lain seperti angin kencang atau badai, yang dapat menyebabkan banjir rob dan kerusakan di wilayah pesisir. Karena pantai ini tempat wisata, ada berbagai wisata air yang dapat dinikmati pengunjung seperti banana boat dan perahu. Berbagai wisata kuliner seafood dan pedagang keliling ikan asin, peyek udang dan otak-otak juga ada.

Setelah kami puas melihat area pantai publik, kami diantar oleh bang Amir (guide lokal) untuk mengunjungi area eks tambak yang kini ditanam mangrove. Kami harus berjalan kaki sejauh 800 meter melewati pinggiran tambak.
“Dulunya tambak di sini semua aktif, ada yang isi ikan bandeng dan udang, sekarang sudah banyak yang tutup dan ditanam mangrove,” ujang bang Amir. Kami berjalan menuju ujung bibir pantai, sudah mulai terlihat pohon Avicennia alba dan Rhizophora stylosa tumbuh mengarah ke pantai. Kumpulan mangrove indukan mulai terlihat menjadi pembatas tambak. Di depannya dan pohon-pohon yang baru ditanam juga mulai banyak. Bang Amir mengatakan kalau di desa ini sering dilanda abrasi dan rob. Tentu karena mangrovenya tidak serapat dahulu. Pembukaan lahan tambak yang tidak berdampingan dengan mangrove menjadikan hutan mangrove habis dibabat. Jika tidak ada green belt abrasi sudah pasti menghantui permukiman warga.

Pesisir yang kami datangi merupakan perairan yang menjadi titik evakuasi tragedi pesawat Lio Air yang jatuh pada 29 Oktober 2018 silam. Setelah kejadian tersebut Pantai Tanjung Pakis kian populer karena banyak disorot media saat itu.

Peluang wisata dan jasa lingkungan di Tanjung Pakis terbuka lebar, potensi pemanfaatan daun Beluntas (Pluchea indica) yang merupakan mangrove asosiasi juga besar. Namu perlu dibarengi dengan kemampuan dan inovasi sumber daya manusianya untuk mengolah wisata dan produk lokal menjadi lebih bernilai, dan penataan kawasan yang lebih baik tanpa mengesampingkan kawasan mangrovenya yang akan menjadi peluang ekonomi di masa depan.
Penulis: Nathasi Fadhlin
