Di awal bulan Juli 2025 tim LEVA melakukan kunjungan ke Pantai Tanjung Pakis, Karawang Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari survei lokasi untuk penanaman mangrove pada Sabtu, 12 Juli 2025 bersama CarbonEthics dan Sompo Insurance.
Lokasi penanaman berada di lahan bekas tambak yang tepat di depan pesisir. Keberadaan mangrove menjadi penting karena tepat berada di pesisir yang terancam abrasi. Beberapa pemilik tambak sudah mulai menyadari bahwa mangrove penting sehingga bersedia diajak kerjasama dan mulai beralih untuk ditanam mangrove dalam hal ini dikelola oleh CarbonEthics.
Kegiatan ini menjadi bagian dari inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) Sompo Insurance yang berfokus pada pilar “environment”. Dalam hal ini penanaman melibatkan sejumlah 30 karyawan Sompo Insurance (Relawan Sompo Peduli) serta alumni NGO Learning Internship Program, dan bekerja sama dengan CarbonEthics sebagai pelaksana program. NGO Learning Internship Program merupakan program magang bagi mahasiswa di Indonesia yang diselenggarakan oleh Sompo Environment Foundation (SEF) bekerja sama dengan Japan Environment Education Forum (JEEF), serta didukung oleh Sompo Insurance. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan.

Kegiatan dibuka dengan edukasi manfaat mangrove dari segi fisik, biologi, dan ekonomi. Kemudian bersama fasilitator dari tim LEVA (Wijaya, Fauzan, Pras, Nathasi, Bela, dan Nia) peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berkeliling area mangrove. Peserta antusias bertanya pada masing-masing fasilitator.
Mereka mengaku banyak yang pertamakali melihat pohon mangrove dan mengetahui manfaatnya. “Ternyata mangrove banyak jenisnya ya, bahkan semak-semak ini juga masuk ke dalam mangrove. Baru tahu,” ujar salah satu peserta.

Usai sesi edukasi dilanjut dengan penanaman, adapun jumlah mangrove yang ditanam sebanyak 300 pohon dengan metode tanam langsung. Uniknya pemasangan pada ajir ditancap miring / horizontal untuk menahan angin dan arus yang datang. Adaptasi ini dilakukan dengan pertimbangan kondisi yang terjadi di lapangan, tiap daerah memiliki ciri khas dan inovasinya pada teknik penanaman. Substrat di area penanaman termasuk lumpur berpasir dan padat, sehingga mudah untuk dipijak, namun harus tetap berhati-hati. Dan kebetulan saat itu kondisi air belum pasang sehingga tinggi air hanya sebetis dewasa.

Badanku nggak seimbang, memang harus fokus jalan di lumpur,” kata salah satu peserta yang tercebur.
“Tapi seruuuu nanam mangrove,” ujar Ruth.
Usai penanaman, peserta diarahkan untuk bersih-bersih sementara dan foto bersama di depan pantai. Mereka berlarian bermain ombak dan tertawa lepas.
Setelah puas bermain di pantai peserta diarahkan untuk berpindah lokasi ke area wisata Pantai Tanjung Pakis sekaligus ishoma. Makan siang yang disajikan adalah menu ikan bakar khas Karawang di Warung Lesehan Ikan Bakar Bapak Bulak Ibu Benah, peserta menikmati makan siang dengan lahap karena penanaman membuat mereka cukup menguras energi.
Hidangan camilan olahan produk UKM dari Kalompok Kawan Ibu juga menambah keberagaman kuliner khas mangrove yang mereka cicipi di kegiatan kali ini. Ada jus pidada, stick beluntas dan dodol. Rasa buah pidada yang seperti nano-nano, manis asam membuat mereka terkejut dan ingin lagi mencoba.
Tapi tenang … setiap kegiatan penanaman, LEVA selalu memberikan paket merchandise dan produk olahan mangrove kepada peserta sebagai oleh-oleh untuk dinikmati bersama keluarga di rumah. Kami sangat senang ketika membaca notes kesan dan pesan dari peserta, mereka merasa puas dengan pengalaman baru menanam mangrove dan mendapat edukasi dari tim LEVA.

Kegiatan penanaman ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai benteng alami kawasan pesisir dan bagian dari mitigasi perubahan iklim dan ekonomi masyarakat pesisir.
Penulis: Nathasi Fadhlin
