Perayaan Hari Mangrove Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 26 Juli oleh UNESCO pada tahun 2015 merupakan bentuk pengingat untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya ekosistem mangrove dan mendesak aksi nyata perlindungan serta restorasi hutan mangrove yang menghadapi ancaman serius dari aktivitas manusia.
Penebangan liar, polusi, dan konversi lahan, misalnya, padahal mangrove punya peran penting untuk melindungi pantai dari erosi dan tsunami, menyerap karbon, serta menjadi habitat beragam spesies.
Oleh karena itu pada tanggal 27 Juli 2025 LEVA turut merayakan melalui event World Mangrove Day 2025 yang berlokasi di Kawasan Ekowisata Mangrove, PIK dan dihadiri oleh tim Levania (Hima, Nia, Bela, Gilang) dan beberapa peserta (Aqilla, Athiya, Diego, Difani, Yola, Hera dan Kris).

Kegiatan diawali dengan perkenalan Komunitas LEVA, dan Kawasan Ekowisata. Kemudian dilanjut dengan pembagian kelompok untuk tur mangrove dengan menelusuri jalur trekking mangrove. Sambil menikmati area trekking, para peserta juga mendapat informasi seputar mangrove dari Gilang dan Bela sebagai fasilitator kelompok.
“Mangrove di Ekowisata nggak dipengaruhi pasang surut air laut, tapi mereka tetap masih bisa tumbuh sampai sebesar ini. Karena dulunya, tempat ini adalah bekas tambak dan rawa, sehingga mangrove-mangrove sudah beradaptasi dengan kondisi yang sekarang (daerah tadah hujan),” papar Gilang.

Meski begitu, lanjut Gilang, mangrove di sini memiliki peran yang juga penting bagi kawasan PIK, mereka menjadi penyerap polutan dari aktivitas kendaraan di Tol Sedyatmo menuju Bandara Soekarno Hatta.
Bela yang juga menjadi fasilitator menambahkan, “Selain sebagai penyerap karbon, keberadaan mangrove di sini sebagai pakan satwa liar seperti monyet ekor panjang yang memakan pucuk-pucuk daun Rhizophora sp. dan habitat burung-burung air,” ujarnya.
Interpretasi yang disampaikan oleh para fasilitator membuat kegiatan trekking terasa cepat dan sudah sampai di lokasi penanaman mangrove. “Hari ini kita akan menanam 15 bibit mangrove sebagai simbol memperingati Hari Mangrove. Semoga hutan mangrove di Indonesia semakin bertambah area luasannya dan bebas dari alih fungsi lahan,” ucap Hima sebelum penanaman dimulai.
Satu per satu peserta memasuki area penanaman, ada yang baru pertama kali menanam dan ada yang sudah beberapa kali. Semua saling bantu dan meyakinkan peserta yang masih ragu untuk masuk ke lumpur. Teknik penanaman yang digunakan adalah tanam langsung karena area yang tidak dipengaruhi pasang surut, sehingga kelulus hidupnya lebih tinggi.

Usai penanaman para peserta mampir sebentar ke tempat persemaian dan pembibitan mangrove untuk melihay bagaimana propagul disemai hingga siap tanam. Kemudian dilanjut dengan bersih-bersih, bermain Mangrove Board, dan membuat herbarium mangrove yang diambil dari beberapa spesimen kering, seperti daun, buah, dan bunga mangrove. Spesimen tersebut ditempel pada kertas HVS, diberi nama spesies dan keterangan yang selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok.


Para peserta World Mangrove Day 2025 mengaku merasa senang mendapat teman baru, ilmu, dan pengalaman berkesan di hari mangrove tahun 2025.Kami berharap dengan adanya event ini dapat menumbuhkan kepedulian terhadap ekosistem mangrove dan menularkan pengalamannya kepada orang-orang terdekat untuk melakukan hal yang sama.
Penulis: Nathasi Fadhlin
