Dalam menumbuhkan kesadaran pada konservasi alam, ICBC Indonesia bersama CarbonEthics menggelar kegiatan CSR dalam tema “Preserving Ecosystem Balance the Future” penanaman 3,000 bibit mangrove di Pulau Harapan dan 10 bibit simbolis pada Jumat, 28 November 2025, di Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Mangrove, Angke Kapuk, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Kegiatan ini diikuti oleh 10 peserta yang penuh semangat mendukung aksi pelestarian ekosistem pesisir.
Sejak pagi, peserta sudah disambut hangat oleh tim LEVA di pendopo, mempersilahkan peserta untuk menikmati dengan sajian snack sarapan. Dilanjutkan, dengan sambutan dan sesi edukasi mangrove dan iklim yang dibawakan oleh Kak Aisyah. Peserta menyimak dengan antusias paparan pentingnya mangrove dalam menjaga keseimbangan alam, mulai dari mencegah abrasi, menjadi habitat berbagai biota, hingga sebagai penyerap karbon. Sehingga ekosistem mangrove disebut sebagai nature-based solutions.


Peserta dibagi menjadi dua grup dengan satu orang fasilitator (Kak Nathasi dan Kak Jeka) untuk berkeliling area TWA sambil diedukasi biodiversity flora dan fauna yang ada di dalam hutannya. Di sesi ini peserta diperkenankan bertanya hal-hal yang ingin diketahui terkait mangrove kepada fasilitator.
Seperti sejarah pembangunan TWA, jenis-jenis mangrove sejati dan asosiasi, jenis akar, buah yang dapat diolah menjadi makanan dan minuman, fauna endemik yang menjadi penghuni hutan mangrove. Hingga sampailah peserta di area pembuatan media tanam mangrove yang disebut “bronjong”. Terbuat dari bahan anyaman bambu yang dibuat setinggi satu meter sebagai wadah atau keranjang penopang bibit mangrove yang baru ditanam. Bronjong digunakan untuk daerah tergenang dan dipengaruhi pasang surut untuk membantu mangrove tumbuh dan terlindung dari berbagai hama seperti teritip, kepiting, dan sampah plastik yang seringkali menjerat tunas muda.
Sejak tahun 2010, metode penanaman dengan bronjong sudah dilakukan di TWA dengan survival rate mencapai 90%. Namun tidak semua daerah cocok menggunakan metode tersebut. Hal ini menyesuaikan kondisi area tanam, tinggi air, jalur hidrologi, dan ancaman. Peserta juga berkesempatan merasakan pengalaman menganyam bronjong dalam mini workshop.
Tur dilanjutkan dengan berkunjung ke area pembibitan mangrove. Di tempat ini propagul (buah mangrove) disemai ke dalam polybag dan dibiarkan hingga tumbuh tunas dan pecah daun. Durasinya sekitar 4 hingga 5 bulan untuk siap dipindahkan dan ditanam ke substrat aslinya. Peserta belajar daur hidup mangrove yang dapat dibagi menjadi dua, yakni penyemaian secara alami dan intervensi manusia. Di sesi ini biasanya banyak yang pertanyaan yang dilontarkan dari peserta ke fasilitator terkait buah mangrove yang awam mereka temui seperti propagul.
Dan faktanya, masih banyak masyarakat awam yang belum mengetahui asal muasal pohon mangrove dan bagaimana cara tanaman tersebut berkembang biak. Dalam sesi ini fasilitator mencoba menjelaskan secara komperhensif dengan bahasa yang mudah dipahami kepada peserta tur. Tujuannya agar mereka mendapat ilmu dan pengalaman baru dari perjalanan mangrove yang cukup singkat ini. Peserta juga berkesempatan merasakan pengalaman melakukan pembibitan mangrove dan menuliskan harapannya ke dalam tagging kayu yang disediakan. Usai workshop pembibitan, kegiatan dilanjut penanaman mangrove simbolis dilakukan di area VIP. Peserta tidak perlu turun ke air cukup berdiri dari atas jembatan bambu dan menancapkan bibit ke dalam beronjong yang sudah disediakan dan diikat dengan tali. Setelah kegiatan tur dan penanaman selesai peserta kembali ke pendopo.

Sajian olahan mangrove dengan sirup pidada yang segar dan snack olahan mangrove sudah siap disantap peserta. Kegiatan ditutup dengan pemberian souvenir dari Mangi Store.
Kami sangat senang mendapat kunjungan dari tim ICBC Indonesia, semoga kontribusi hijau melalui pohon mangrove dan pengalaman yang didapat menjadi literasi tambahan untuk mengenal ekosistem terpenting dalam bumi ini. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!
Penulis: Nathasi Fadhlin
