Pantai Utara Bekasi menyimpan cerita sejarah yang panjang terkait mata pencaharian masyarakatnya yang menjadi petambak. Hutan mangrove habis ditebang untuk dialihfungsi menjadi kolam-kolam besar ikan dan udang. Hal ini dikarenakan hutannya masih luas sehingga dengan cara pintas mendapatkan penghasilan alam selalu dikorbankan.
Hal ini yang membuat kami tertarik untuk berkunjung dan mengeksplorasi sisa-sisa hutan mangrove di Bekasi Utara, tepatnya di Saung Edukasi Mangrove Kampung Pondok Dua, Desa Hurip Jaya, Kec. Babelan, Kab. Bekasi, Jawa Barat pada Sabtu, 2 Agustus 2025 bersama Nathasi, Hima, Rizki, dan Wijaya.


“Tempat ini hasil kolektif masyarakat kampung sekitar untuk membuat tempat edukasi mangrove,” kata pak Agus.
Kami memulai perjalanan dari Harapan Indah pukul 09.00 wib, tujuan pertama kami adalah Kantor Kecamatan Tarumajaya untuk bertemu pak Agus. Suasana perjalanan seperti ke arah Muara Gembong, kami masih menjumpai persawahan dan kebun-kebun yang luas. Setelah bertemu dengan pak Agus kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama Desa Hurip Jaya, perjalanan darat sekitar 1 jam dan transportasi perahu lintas sungai sekitar 15 menit untuk memangkas waktu tempuh lebih cepat. Moda trasnportasi perahu lintas sungai kerap kali sering ditemukan di Jabodetabek untuk mempercepat waktu tempuh perjalanan. Sungai-sungai yang mengalir dari hulu ke hilir menjadi berkah bagi sebagian warga sebagai matapencaharian.

Kami tiba di Saung Edukasi Mangrove Kampung Pondok Dua pukul 10.30 wib. Beberapa pengurus kelompok menyambut kedatangan kami. Singkat cerita mereka memulai gerakan kolektif atas dasar kecintaannya terhadap lingkungan dan hutan mangrove yang masih tersisa di desanya.
Di saung ini ada berbagai macam jenis-jenis mangrove yang ditanam untuk event ceremonial CSR, seperti Bruguiera parviflora, Bruguiera gymnorrhiza, Lumnitzera racemosa, Sonneratia cessolaris, Acrosticum aureum, Rhizophora mucronata, Avicennia alba.
“Dulu waktu kami masih SD hutan mangrovenya luas, rapat, banyak monyet dan lutung di sini. Setelah dibuka jadi area tambak tahun 80-an, dan hutan mangrovenya hilang, semakin habis binatang-binatang itu dan mulai terjadi banjir rob,” ujar pak Hendra salah satu pengurus kelompok.
Apalagi, sambungnya, sekarang banyak perusahaan-perusahaan swasta di sini yang masih menebang mangrove untuk memperluas kawasannya dan tidak memikirkan jangka kedepan atas hasil produksinya yang menimbulkan pencemaran air dan limbah. Area mangrove yang masih tersisa seringkali menjadi incaran mereka untuk memperluas kawasan.
Mendengar hal tersebut kami merasa prihatin, bukan hanya Desa Hurip Jaya yang mengalami hal tersebut, hampir di sebagian pesisir juga terjadi. Bahkan mirisnya warga kampung sering kali dipersekusi untuk memuluskan niat pelebaran kawasannya. Usai diskusi kami melanjutkan kegiatan ke arah pesisir untuk melihat sisa hutan mangrove yang masih ada. Kami naik perahu nelayan menyusuri Sungai Pondok Dua. Di sepanjang kiri dan kanan sungai masih terdapat mangrove, namu semakin ke arah hilir dan muara sungai, kami tidak lagi menjumpai mangrove

“Dulunya di sini masih mangrove, tapi sekarang sudah habis dijadikan tambak dan sekarang abrasi, tambak-tambak hancur dan jadi lautan,” tukas pak Hendra. Kelompok Pondok Dua berusaha untuk mengedukasi pemilik tambak untuk menanam mangrove di sekitar pinggir-pinggir tambak, hal ini guna membentengi tambak dari abrasi. Kini sudah mulai banyak pemilik tambak yang melakukan hal tersebut sehingga mangrove-mangrove muda mulai terlihat.

Kami juga mengimbau kepada kelompok untuk coba melakukan penanaman dengan teknik rumpun berjarak di depan tambak. Metode rumpun berjarak untuk kondisi daerah terhubung dengan laut diperlukan teknik khusus, yakni membuat pagar pelindung dari bambu yang dilapisi waring. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengaman bagi bibit mangrove dari sampah plastik dan ombak.

Pemandangan mangrove di muara sungai cukup bagus, jenis Rhizophora mucronata rapih tersusun membentang, kami juga menemukan Rhizophora apiculata yang tumbuh bergerombol dalam membentuk pohon yang besar. Ada pula Sonneratia casseolaris dan Avicennia alba. Tempat ini berpotensi dijadikan wisata minat khusus untuk wisata susur sungai dengan kano.
Setelah puas menyusuri mangrove kami kembali ke saung dan pamit. Kunjungan kami ke Desa Hurip Jaya menambah wawasan dan pandangan kami terkait kondisi mangrove di Utara Bekasi. Potensinya ada namun keterlibatan pemerintah daerah masih kurang dan butuh dukungan dari semua pihak agar desa Hurip Jaya tetap aman dari bencana di masa depan.
Penulis: Nathasi Fadhlin
