Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan, PT Paragon Technology and Innovation (Paragon) yang merupakan perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia menyelenggarakan kegiatan CSR penanaman 300 bibit mangrove pada Kamis, 16 Oktober 2025 di Kawasan Ekowisata Mangrove, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta Paragonian yang juga berkolaborasi dengan Indorelawan.
Mengawali pagi, tim Paragonian sudah tiba di Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Mangrove, Angke Kapuk, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara pukul 08.00 wib. Fasilitator dari LEVA mengarahkan peserta untuk berkumpul di selasar gedung serbaguna. Hari ini menjadi pengalaman baru bagi sebagian karyawan Paragon untuk menanam, dan berwisata regeneratif di hutan mangrove. Kegiatan diawali dengan sambutan dan yel-yel untuk menguggah semangat pagi.

Empat orang fasilitator Kak Nathasi, Kak Arin, Kak Pras, dan Kak Geza sudah bersiap untuk mengajak Paragonian berkeliling area TWA. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dengan satu orang pendamping fasilitator. Spot pertama yang dituju adalah dermaga, di sini peserta akan melakukan boat tour. Melihat sisi hutan mangrove lebih dalam dari atas speedboat, pemandangan hutan yang asri dan aktivitas fauna air seperti burung dan biawak siap memanjakan mata.
Sepanjang perjalanan, fasilitator menjelaskan peranan mangrove sebagai perisai hijau pesisir, habitat berbagai biota laut, dan penyerap karbon terbaik. Sehingga ekosistem mangrove disebut sebagai nature-based solutions. Usai berkeliling naik speedboat, tur dilanjutkan berkeliling area TWA, di sesi ini peserta diperkenankan bertanya hal-hal yang ingin diketahui terkait mangrove kepada fasilitator.
Seperti sejarah pembangunan TWA, jenis-jenis mangrove sejati dan asosiasi, jenis akar, buah yang dapat diolah menjadi makanan dan minuman, fauna endemik yang menjadi penghuni hutan mangrove. Hingga sampailah peserta di area pembuatan media tanam mangrove yang disebut “bronjong”. Terbuat dari bahan anyaman bambu yang dibuat setinggi satu meter sebagai wadah atau keranjang penopang bibit mangrove yang baru ditanam. Bronjong digunakan untuk daerah tergenang dan dipengaruhi pasang surut untuk membantu mangrove tumbuh dan terlindung dari berbagai hama seperti teritip, kepiting, dan sampah plastik yang seringkali menjerat tunas muda.


Sejak tahun 2010, metode penanaman dengan bronjong sudah dilakukan di TWA dengan survival rate mencapai 90%. Namun tidak semua daerah cocok menggunakan metode tersebut. Hal ini menyesuaikan kondisi area tanam, tinggi air, jalur hidrologi, dan ancaman. Peserta juga berkesempatan merasakan pengalaman menganyam bronjong dalam mini workshop.
Tur dilanjutkan dengan berkunjung ke area pembibitan mangrove. Di tempat ini propagul (buah mangrove) disemai ke dalam polybag dan dibiarkan hingga tumbuh tunas dan pecah daun. Durasinya sekitar 4 hingga 5 bulan untuk siap dipindahkan dan ditanam ke substrat aslinya. Peserta belajar daur hidup mangrove yang dapat dibagi menjadi dua, yakni penyemaian secara alami dan intervensi manusia. Di sesi ini biasanya banyak yang pertanyaan yang dilontarkan dari peserta ke fasilitator terkait buah mangrove yang awam mereka temui seperti propagul.
Dan faktanya, masih banyak masyarakat awam yang belum mengetahui asal muasal pohon mangrove dan bagaimana cara tanaman tersebut berkembang biak. Dalam sesi ini fasilitator mencoba menjelaskan secara komperhensif dengan bahasa yang mudah dipahami kepada peserta tur. Peserta diajak merasakan pengalaman menjilat asinnya daun Avicennia marina (api-api) pada bagian bawah daun, sebagai bukti bahwa mangrove mengsekresi kelebihan garam melalui daunnya.
Usai melakukan tur, rombongan bergerak menuju lokasi kedua, yaitu Kawasan Ekowisata Mangrove yang tidak jauh dari TWA, sekitar 10 menit perjalanan menggunakan bus. Di sana kegiatan penanaman mangrove dilakukan.
Setiba di lokasi, fasilitator memberikan pengarahan teknis kegiatan, mempersiapkan peralatan yang harus dibawa dan memandu peserta untuk masuk ke dalam sesuai urutan grup masing-masing. Kondisi landscape Kawasan Ekowisata Mangrove berbeda dengan TWA, di sini mangrove tumbuh dari bekas tambak dan sudah tersedimentasi oleh tanah yang padat. Jalur hidrologi airnyapun tidak langsung terhubung laut, sehingga asupan air didapat dari danau dan rawa tadah hujan.

Menariknya, di sisi selatan terdapat Jalan Tol Sediyatmo menuju Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Mangrove menjadi pagar sepanjang jalan tol. Karena dahulu, Pantai Indah Kapuk adalah hutan mangrove yang cukup rapat, namun seiring berjalannya pembangunan, harus dikalahkan dengan alihfungsi lahan, sehingga keberadaaanya semakin menyempit.
Informasi ini kami sampaikan kepada peserta agar mengetahui kondisi rill di lapangan terkait ancaman mangrove. Diskusi ini membuka banyak pertanyaan dan sudut pandang baru terkait betapa pentingnya menjaga ekosistem mangrove di tengah pembangunan.
Akhirnya rombongan sampai di lokasi penanaman, bibit mangrove dan ajir sudah disiapkan, satu persatu peserta masuk ke dalam lahan penanaman. Kak Pras dan Kak Geza memberikan contoh cara menanam mangrove, diikuti oleh peserta yang lain. Sebanyak 300 bibit mangrove selesai ditanam. Sebagian peserta masih nyaman di dalam air dan mengeksplor pohon-pohon mangrove yang sudah besar sambil main lumpur.

Setelah semua puas menanam, kegiatan dilanjut dengan bersih-bersih, games, dan makan siang. Tidak lupa sajian produk olahan mangrove kami perkenalkan dan dapat dinikmati peserta, seperti sirup pidada, stick beluntas, dodol, dan masih banyak lagi. Ini menjadi bukti bahwa hutan mangrove dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Di akhir fasilitator membagian sticky notes untuk ditulis kesan dan pesan selama kegiatan berlangsung, yang kemudian ditukarkan souvenir dari Mangi Store dan produk olahan mangrove. Selain berkontribusi pada pelestarian lingkungan, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan dan semangat gotong royong di antara para Paragonian. Mari bersama menciptakan lebih banyak aksi kebaikan yang berdampak bagi bumi.
Penulis: Nathasi Fadhlin
