Lompat ke konten
Home » Blog » Kelas Mangrove, Pintu Masuk Dunia Mangrove

Kelas Mangrove, Pintu Masuk Dunia Mangrove

“Bagi saya, Rumah bukan hanya bangunan fisik, Rumah adalah tempat melangsunkan kehidupan, tempat berlindung, tempat kembali, tempat anggota keluarga berinteraksi, mendukung pertumbuhan dan perkembangan setiap anggota keluarga, berbagi cerita suka-duka, maupun canda-tawa. Itulah yang dirasakan ketika berada di Rumah LEVA”.

Sabtu, 19 April 2025 Divisi Education  mengundang para Levania untuk menghadiri kegiatan rutin Kelas Mangrove di Rumah LEVA. Kegiatan ini bertujuan agar para Levania mendapatkan dan memahami informasi serta keterampilan guna meningkatkan kesadaran pelestarian mangrove.

Kelas Mangrove dibagi menjadi dua sesi kelas. Kelas pertama “Basic Indonesian Mangrove Knowledge” materi dibawakan oleh Kak Inge. Pada sesi ini, kak Inge memberikan banyak sekali materi mangrove mulai dari jenis mangrove yang dibagi menjadi dua jenis yaitu; Mangrove Sejati (True Mangroves), dan Mangrove Ikutan (Mangrove Associates). Fungsi mangrove terbagi atas fungsi fisik, fungsi biologi, fungsi kimia, dan fungsi ekonomi.

Jika berbicara tentang fungsi ekonomi, saya jadi teringat bahwa beberapa suku di Indonesia yang tinggal dan hidup di dalam hutan memiliki kebijaksanaan atau kearifan lokal. Mereka menganggap hutan adalah “Rumah” atau sebagai “Ibu” bukan sekedar sumber ekonomi melainkan bagian integral kehidupan mereka.

Materi kedua adalah “How To Be A Good Guide” pemaparan materi diberikan oleh Kak Prasetio. Sesi ini merupakan sesi yang menarik dan tak terlupakan terutama bagi diri saya sendiri. Pada sesi ini kak Pras menjelaskan banyak hal seputar bagaimana menjadi seorang pemandu yang baik dengan cara yang asik dan seru. Tentu karena dirinya adalah seorang pemandu yang berpengalaman.

Kak Pras menjelaskan peran pemandu seperti memberikan informasi, pendampingan wisatawan serta menghibur wisatawan, dan seorang pemandu setidaknya memiliki kemampuan guna menunjang aktifitasnya seperti Publik Speaking, Ice Breaking, dan Story Telling. Dalam sesi ini, Kak Pras bukan hanya meyampaikan materi akan tetapi mengajak Levania untuk bermain games yang sangat menyenangkan dan menguji konsentrasi serta mengajak Levania untuk beriteraksi satu sama lain.

Setelah games ada sesi dimana Levania untuk tampil presentasi dengan tema acak. Semua berjalan lancar sampai tibalah giliran saya untuk presentasi. Saya adalah seorang introvert dan ini kali pertama saya untuk presentasi di depan banyak pasang mata, hanya ada tiga orang saja di antara mereka yang saya kenal. Ya! tentu saja, saya gagal dalam presentasi pertama. Berbicara dihadapan banyak orang bukanlah hal mudah terutama bagi saya pribadi, tekanan yang luar biasa membuat materi di kepala hilang sekejap dan itu menambah kepanikan.

Namun itu bukan alasan, ada pepatah Yunani Kuno yang terpahat di Kuil Apollo di Delphi  “Gnothi seauton” yang jika diartikan menjadi “Kenali Dirimu Sendiri”, pepatah ini saya pribadi artikan bahwa kita harus sadar dan mengakui bahwa kita adalah manusia yang memiliki kekurangan. Namun bukan berarti kita menjadi berputus asa justru sebaliknya mengetahui kekurangan menjadikan saya untuk memperbaiki diri dan berkembang.

Kelas ditutup oleh Kak Inge, ia menyampaikan beberapa kata penutup kepada Levania yang mana ada kalimat yang saya catat dan kalimat tersebut akan saya ingat selalu, kalimatnya berbunyi “Kemampuan publik speaking bukanlah bakat alami” mungkin kalimat ini tidaklah sepenuhnya benar, akan tetapi kalimat ini mendorong saya pribadi dan menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi, dan potensi tersebut harus dioptimalkan sehingga menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Dari Kelas Mangrove saya belajar banyak hal, yakni pengetahuan sangatlah penting dan menyadarkan saya akan sebuah makna namun bertindak itu sulit. Saya mengutip subuah quote dari J.W.H Goethe “Berpikir itu gampang, bertindak itu sulit, dan melasanakan satu pikiran dalam tindakan adalah hal tersulit di dunia”.

Seperti apa yang saya sampaikan di awal bahwa rumah adalah tempat kita melangsungkan hidup, tempat kita berlidung, tempat kembali, tempat anggota keluarga berinteraksi, saling mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Begitu juga dengan mangrove, mangrove bukan hanya objek penelitian tapi lebih dari itu mangrove adalah “Rumah Kita”.

Penulis : Rulli Daniel Novianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *