Lompat ke konten
Home » Blog » LEVA Goes to Makassar: Cerita Perjalanan Belajar EMR bersama Blue Forests

LEVA Goes to Makassar: Cerita Perjalanan Belajar EMR bersama Blue Forests

Menanam Mangrove di Kepala, Menanam Mangrove di Hati

Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) adalah sebuah pendekatan dalam merehabilitasi kawasan mangrove. Konsepnya adalah memperhatikan kondisi tumbuhnya yang mengacu pada jalur hidrologi dan kondisi alam. Pendekatan ini diinisiasi Yayasan Hutan Biru oleh (Blue Forests), NGO yang berfokus pada program konservasi mangrove yang bekerja sama dengan masyarakat pesisir, dengan fokus pada perempuan, masyarakat miskin dan rentan, untuk meningkatkan akses dan kendali atas sumber daya alam mereka; memulihkan dan meningkatkan ekosistem penting; serta membangun keterampilan dan pengetahuan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya mereka secara berkelanjutan.

Konsep rehabilitasi mangrove menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan mangrove. Di tahapan ini program rehabilitasi dirancang untuk mengusahakan survival rate masuk dalam kategori tinggi. Pengetahuan ini dibagikan oleh Blue Forest dalam “Workshop EMR” yang diadakan pada tanggal 10 sampai 12 Desember 2025. Pada kesempatan kali ini Nathasi mewakili LEVA menjadi salah satu peserta pada yang diselenggarakan di Rumata’ Artspace, Makassar, Sulawesi Selatan.

Workshop ini melibatkan anak muda dari berbagai komunitas, organisasi maupun mahasiswa yang punya ketertarikan pada isu pesisir dan mangrove, sekaligus yang sedang atau akan menyiapkan program rehabilitasi jangka panjang. Peserta diajak untuk memahami proses rehabilitasi secara lebih utuh, mulai dari mengenali kondisi lokasi rehabilitasi, memahami gangguan, dan menentukan intervensi yang paling tepat sebelum melakukan rehab sebuah area. Tidak hanya sekedar ruang belajar, workshopini juga menjadi peluang baru untuk membangun jejaring dan kolaborasi antar komunitas, organisasi, dan kampus untuk memberikan dampak yang lebih luas kedepannya.

Di hari pertama, fasilitator Blue Forests membuka padangan baru terkait konsep rehabilitasi. Mengutip tagline Blue Forests Menanam Mangrove di “Kepala”, setelah itu Menanam Mangrove di “Hati”. Adalah langkah awal untuk rehabilitasi, baru setelahnya menanam mangrove jika memang perlu. Hal ini yang seharusnya ditekankan dan dipahami oleh perancang program. Karena secara alami, mangrove dapat tumbuh hanya dengan memperbaiki area lokasi tanamnya. Paradigma ini yang harus diubah untuk meminimalisir kegagalan serta pengeluaran biaya yang besar.

Makassar di Musim Hujan

Tidak terbayang kalau akhir tahun akan mengunjungi Celebes (Pulau Sulawesi), meskipun sebenarnya pulau ini masuk ke dalam wishlist LEVA Goes to tapi tidak terbayang akan di tahun 2025. Ada sebuah fun fact, sejak tahun 2021 aku sudah mengagumi program-program Blue Forests yang kulihat dari sosial media dan websitenya, akupun juga sudah membaca publikasi tentang EMR. Sejak saat itu ada niat besar untuk bisa belajar langsung bersama Blue Forests suatu saat nanti. Dan hari itu terwujud!

Aku tiba di Makassar tanggal 9 Desember 2025, pesawatlanding disambut gerimisi, “selamat datang di Makassar, aku akan baik-baik saja selama di sini, bertemu dengan orang-orang baik, menyenangkan dan banyak teman”, ucapku dalam hati. Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (UPG) berlokasi di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Meski sering disebut sebagai Bandara Makassar, secara administratif lokasinya berada di Kabupaten Maros, sekitar 20 km dari pusat kota Makassar, dan menjadi gerbang utama Indonesia Timur. 

Setiba di selasar area kedatangan, aku mencari tempat duduk untuk mengatur strategi mencapai lokasi hotel untuk bermalam, meskipun tahun 2021 aku pernah ke Makassar namun aku masih butuh adaptasi dengan suasana di sana. Dari Jakarta sudah ku putuskan akan naik taxi online untuk menempuh pusat kota. Namun ternyata setelah tiba di Makassar, google maps-ku masih berada di jangkauan Jakarta, aku kesulitan untuk mengakses aplikasi online dan memesan mobil ke sana, “Duh ada aja ujiannya, kenapa tiba-tiba gak bisa pakai maps di Sulawesi,” gerutuku dalam hati.

Untungnya emosiku masih stabil, aku mengambil nafas panjang dan menenangkan diri duduk di kursi ruang tunggu sambil menatap ke arah pasangan suami istri yang kelihatannya sedang menunggu jemputan pulang umroh. Sang istri tersenyum ke arahku dan langsung ku balas senyumannya. Kemudian ia agak menghampiri dan bertanya “Kita mau ke mana?”, ucapnya kepadaku.

Aku masih mencerna pertanyaannya yang diawali dengan kata ‘kita’, namun sejurus kemudian lidahku menjawab “Ke Kota Makassar”. Tanpa berpikir panjang aku mengajukan pertanyaan balik “Biasanya di sini lebih banyak pengguna aplikasi Gojek atau Grab ya bu?”, tanyaku.

Sang ibu memberitahuku menunggu di sisi barat untuk mendapatkan driver dari aplikasi Grab, karena di bandara armada Grab cukup banyak. Akupun mengucapkan terimakasih sambil masih duduk terdiam sampai pasangan itu pergi. Tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang bapak-bapak menanyakan tujuanku. Ternyata dia adalah driver taxi online yang sedang mencari penumpang, namun dengan cara menyamar seperti penumpang yang menunggu. Dan tak nampak membawa kendaraan, karena ternyata mobilnya ada di parkiran.

Aku sudah bisa membaca gelagat driver semacam itu, untungnya saat masih di Jakarta aku mengecek biaya jarak dari bandara ke hotel yang dituju sehingga ketika driver tersebut menyatakan kesediaannya untuk antar aku sudah mematok harga sesuai aplikasi, dan sepakat driver tersebut setuju dengan harga yang ku tawarkan.

Roaming Logat Bahasa

Selama di perjalanan menuju hotel aku mengamati jalanan, rupanya sang driver mengamatiku dan inisiatif memberitahu nama-nama daerah dan gedung-gedung yang kami lewati. Salah satunya Gedung DPRD Kota Makassar yang terbakar saat aksi demo bulan Agustus 2025 silam. Beberapa rumah sakit besar, dan mall. Selama sang driver berbicara aku agak kebingungan karena logat bahasa yang digunakan. Logat Makassar ditandai dengan intonasi cepat, penekanan tegas, dan penggunaan partikel akhir seperti ji, ki, mi, mo, pi untuk menegaskan kalimat. 

Aku yang tidak terbiasa mendengar intonasi cepat masih menerka kalimat yang diucapkannya. Jadi selama kami mengobrol sebenarnya aku tidak paham 100% apa yang dia katakan. Saat obrolan berlangsung aku mendengar kata ‘kita’ yang ternyata artinya ‘kamu’, pantas saja saat ibu-ibu yang ku temui di bandara menanyakan “kita mau ke mana?” aku bingung, ternyata artinya “kamu mau ke mana?” hehehe. Akhirnya tiba di tujuan, aku menginap di Hotel Ramcy Panakkukang, hotel bintang 3 ini letaknya strategis di Jl. Boulevard, Panakkukang, Makassar dekat dengan pusat keramaian dan kuliner. Setelah check in dan bersih-bersih, perutku mulai keroncongan. Aku mencari referensi rumah makan Kapurung, dan ku temui Warung Pugalu Kapurung.

Kapurung adalah makanan khas Sulawesi Selatan khususnya dari daerah Luwu dan Palopo. Aku memesan satu porsi kapurung lengkap. Cita rasa kuah asam, pedasnya lumayan enak dan segar. Isi sayurannya juga beragam, ada bayam, kacang panjang, kangkung, jantung pisang, terong, jagung manis, dan pucuk ubi. Yang menjadi spesial kapurung di sini menggunakan asam patikal, buah dari tanaman kecombrang (Etlingera elatior) yang berbentuk bulat kecil, berwarna merah muda kehitaman, dan memiliki cita rasa asam-kecut yang khas serta aromatik.

Rempah ini populer digunakan dalam masakan Sumatera (seperti ikan arsik Medan) dan Sulawesi untuk menghilangkan bau amis, memberikan aroma segar, dan bertindak sebagai antioksidan. Di dalam kapurung patikala berfungsi untuk menghilangkan amis pada ikan tongkol yang menjadi campuran utama. Di rumah kakek biasanya aku makan kapurung versi ayam, ternyata versi ikan lebih enak, hehe.

Nggak afdol makan kapurung tanpa sagu. Karena salah satu syarat makan kapurung adalah dinikmati dengan sagu kental. Satu mangkok besar ku habiskan tanpa sisa. “Malunra kapurung ji!!”

Day-1: Workshop Materi EMR

Pagi di hari Rabu agak mendung, tidak lama gerimis, ku putuskan memesan taxi online untuk sampai ke Rumata’ Artspace lokasi kegiatan workshop. Meski jalanan terlihat padat, pagi di Makassar tidak terlalu macet jika ku bandingkan dengan Jakarta. Tidak lama sampailah aku di lokasi kegiatan. Ternyata Rumata Art Space berfasad rumah dengan halaman kebun belakang yang lumayan luas untuk acara seni. Konsepnya industrial dengan ruangan coworking space, cukup nyaman untuk kegiatan kolaborasi.

Aku datang masih terlalu pagi, panitia masih menyiapkan peralatan dan menata kursi-kursi. Aku berkenalan dengan beberapa panitia dan sesama peserta lainnya sambil menunggu kegiatan di mulai.

Pukul 08.30 wita acara dibuka, seperti biasa diawali dengan sambutan, kontrak belajar dan pre-test terkait EMR dan mangrove. Pada saat sesi perkenalan beberapa panitia Blue Forest mengenaliku, karena aku satu-satunya peserta yang berdomisili di luar Sulawesi. “Akhirnya kita bertemu ya Nathasi,” ucap Kak Akhzan. Akupun agak bingung pernah mengenalnya di mana, tapi yasudah lah mungkin pada saat acara online zoom meeting atau pernah dalam satu forum diskusi online. Kak Akhzan adalah manajer Restoration & Conservation di Blue Forest, beliau adalah salah satu senior yang memiliki pengalaman cukup banyak dalam merestorasi kawasan mangrove di Indonesia. Tidak lama seorang perempuan juga menyapaku, namanya mbak Fatimah, dia adalah staff Kak Akhzan yang juga di bidang yang sama. Mereka menerimaku dengan ramah.

Konsep fasilitasi yang dilakukan oleh tim Blue Forests menyenangkan dan dinamis, seperti di awal ada energizer dangames sehingga membuat peserta menjadi semangat.

Materi pertama dimulai pukul 10.00, yaitu mengenali keanekaragaman mangrove dan tipologi mangrove global dan nasional. Sebagai pembukaan kami dibagi menjadi 5 kelompok dan diberi tantangan untuk menyelesaikan sebuah permainan “Mangrove Puzzle”, yaitu menentukan nama jenis-jenis mangrove, yang tersusun dari beberapa bagian spesimen daun, akar, bunga, batang, dan buah. Setelah itu tim fasilitator akan mengecek hasilnya dan ditentukan kelompok mana sebagai pemenang.

“Aku sangat suka permainan ini!!” bisikku dalam hati. Anggota di kelompokku menggeluh karena mereka sama sekali tidak tau jenis-jenis mangrove, mereka masih asing dengan nama-nama latin, karena mayoritas anak-anak teknik. Aku menenangkan dan membagi tugas, ada yang mengurutkan, menulis di poster, menempel. Dan aku yang menganalisa dan menentukan jenis-jenisnya.

Mereka melihatku heran mengklsifikasikan bagian-bagian mangrove dengan cepat. Aku bersyukur selama di LEVA banyak belajar identifikasi mangrove dan saatnya ilmuku terpakai. Tidak lama kelompok kami selesai duluan, kemudian disusul oleh kelompok lain. Tim fasilitator mengkoreksi satu persatu, Alhamdulillah kelompok kami menjadi pemenang karena semua jenis mangrove tersusun dengan benar. Selebrasi kecil dari panitia dengan memberikan kami hadiah bingkisan untuk satu kelompok, “Alhamdulillah pemanasan yang sempurna,” ucapku dalam hati.

Setelah games Mangrove Puzzle, materi dilanjutkan dengan membedah sebuah jurnal dari riset Lewis et. Al., 2026. Dalam hal ini ditemukan sebuah riset yang menjadi tantangan adalah capaian rehabilitasi mangrove global menunjukkan diperkirakan 90% dari upaya rehabilitasi mangrove di seluruh dunia dengan fakta belum mencapai tujuan rehabilitasinya. Masalah dan tantangan rehabilitasi mangrove yang pertama ada pada kondisi dan masalah kepemilikan lahan. Hal ini membuat usaha rehabilitasi sulit dilakukan di tempat yang semestinya, area ini sudah beralih fungsi atau lahannya dikuasai oleh pihak lain. Alih-alih tujuan rehabilitasi, beberapa instansi banyak yang melakukan penanaman penanaman di mudflat. Yang kedua, rendahnya pemahaman teknis rehabilitasi tentang syarat ekologi mangrove, pertumbuhan mangrove dan teknis rehabilitasi di tingkat praktisi rehab dan pelaksana rehabilitasi tingkat tapak.

Di tengah-tengah materi, timbul pertanyaan “rehabilitasi mangrove sebaiknya seperti apa?” dalam hal ini pendekatan EMR menjawab bahwa sebaiknya belajar dari alam untuk melihat pertumbuhan alami mangrove. Dan belajar dari pengalaman sebelumnya ada rehabilitasi yang berhasil dan yang gagal dari rehabilitasi sebelumnya.

Dalam hal ini identifikasi tipologi degradasi dan faktor gangguan menentukan teknik rehab yang digunakan. Dari sini dapat diidentifikasi tipologi degradasi potensi habitat mangrove berdasarkan PMN 2021, apakah termasuk tambak, lahan terbuka, mangrove terabrasi, area terabrasi, dan tanah timbul (akresi).

Setelah sesi materi pertama selesai peserta istirahat dan masuk ke materi kedua yaitu mengenal area tumbuh mangrove dan faktor pembatasnya. Di materi kali ini dibahas syarat-syarat mangrove tumbuh, area mangrove tumbuh dan faktor pembatas, Lokasi-lokasi yang sesuai ditumbuhi mangrove, pengenalan aplikasi dan table pasang surut, dan teknik pengukuran area tumbuh mangrove.

Sebelum memasuki materi ketiga, kami diajak untuk refleksi apa tujuan rehabilitasi. Setelah itu masuk pada materi indicator dan factor penentu keberhasilan rehabilitasi mangrove. Pada sesi ini peserta diminta untuk membuat diskusi kelompok dengan menjawab 3 pertanyaan. Hal apa yang ingin dicapai dalam kegiatan rehabilitasi? Apa indikator kegiatan rehabilitasi dikatakan berhasil? Dan apa faktor penentu keberhasilan rehabilitasi? Peserta diminta untuk menuliskan jawaban dan pandangannya melalui sticky notes kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Kelompok lain saling memberikan respon dan menanggapi agar diskusi menjadi interaktif.

Usai ishoma, materi dilanjut pada pembahasan faktor kunci keberhasilan dan kegagalan rehabilitasi mangrove yang diadaptasi pada pembelajaran global dan nasional. Contoh-contoh rehabilitasi mangrove yang berhasil dan gagal, serta prinsip-prinsip dan faktor kunci rehabilitasi. Sesi materi hari pertama diakhiri dengan briefing persiapan kunjungan lapangan, dan teknis pengambilan data lapangan ke salah satu site Blue Forests Kuri Caddi Maros.

Day-2: Kunjungan Lapangan ke Kuri Caddi

Di hari pertama pelatihan materi yang diberikan daging banget!! hal ini yang membuat ku semakin bersemangat untuk melewati dua hari berikutnya. Pukul 07.30 wita aku sudah tiba di Rumata’ Artspace, hari ini akan ada kunjungan lapangan ke Kuri Caddi Maros. Peserta lainnya mulai berdatangan memadati area parkir karena kami akan naik Hiace untuk sampai ke Pelabuhan Untia. Pukul 08.30 kami berangkat, di perjalanan kami saling tukar cerita dan pengalaman. Panitia juga membagian pengalamannya selama merehab kawasan mangrove di Kuri Caddi.

Singkat cerita kami tiba di Pelabuhan Untia, panitia mengemas alat-alat yang akan digunakan selama kegiatan dan dimasukan ke dalam perahu. Kami menyebrang kurang lebih 40 menit dengan perahu membelah selat Makassar. Seketika aku jadi teringat perjalanan ke beberapa pulau di Pulau Seribu, diterpa ombak dan angin laut yang membuat kantuk. Di tengah perjalanan mulai terlihat beberapa pulau, ada yang berpenghuni dan tidak, di pinggir pulau terlihat barisan mangrove yang menjadi greenbelt, aku seperti dejavu. Akhirnya perahu menepi, area sandar kapal terlihat unik, aku mendapati pemandangan batuan kars yang menjorok ke arah laut. Langsung teringat dengan pemandangan yang sama di Kawasan Karst Ramang-Ramang, mungkinkah ini patahan yang sama? Karena konon katanya Sulawesi terbentuk dari dasar laut yang menjadi daratan, maka tak heran jika di sebagian daerah terdapat batuan karst yang eksotis.

Kembali lagi ke perjalanan, setiba di Kuri Caddi kami dikumpulkan untuk briefing dan pengenalan kawasan. Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk menilai kondisi eko-hidrologis mangrove, faktor gangguan, dan kebutuhan rehabilitasi. Bersama mentor kami akan dikenalkan pengenalan teknik pengukuran menggunakan metode transek dan jelajah. Dalam satu kelompok kami akan melakukan transek zonasi mangrove, jelajah mengenali jenis dan persebaran mangrove, serta mengenali faktor gangguan.

Kak Akhzan menyampaikan beberapa pengantar terkait lokasi rehabilitasi mangrove di Kuri Caddi. “Tempat ini dulunya adalah tambak yang terabrasi, dari tahun 2010 mulai direncanakan rehabilitasi, dan sekitar tahun 2013 mulai dikerjakan saluran sebagai jalur masuk biji-biji mangrove dari hutan referensi. Saat ini sudah berhasil tumbuh alami berbagai jenis mangrove,” ujarnya. Aku masih terheran-heran melihat kawasan ini ditumbuhi berbagai ragam jenis mangrove tanpa intervensi manusia. Di situ aku percaya bahwa rehabilitasi tidak harus dengan menanam, namun memperbaiki hidrologi.

Kami dibagi menjadi tiga kelompok, aku masuk di kelompok 1, tugas kami mengukur elevasi Mean Sea Level (MSL) atau muka air laut rata-rata, digunakan sebagai dasar pengukuran ketinggian daratan (elevasi) dan kedalaman laut pada awal proses rehabilitasi sebuah area. Kelompok kami menggunakan alat waterpass sebuah alat ukur yang digunakan untuk menentukan perbedaan tinggi antara dua titik atau lebih, serta memastikan posisi horizontal atau vertikal suatu benda (kerataan/leveling).

Alat ini bekerja dengan memanfaatkan gelembung udara dalam tabung kaca/cairan sebagai indikator, sering kita lihat digunakan dalam konstruksi untuk memastikan bangunan, jalan, atau jembatan tidak miring. Ini adalah pertamakalinya aku mengetahui cara kerja waterpass yang selama ini sering ditemui saat ada perbaikan jalan. Dan kali ini untuk pertamakalinya belajar menggunakan alat ini.

Kejelian mata dalam membaca garis pada rambu ukur diuji, angka-angka tersebut akan mempengaruhi tingkat kemiringan sebuah daratan. Di situlah kunci untuk menentukan jenis-jenis mangrove berdasarkan zonasi. Jika berada di zona mayor, dekat bibir pantai maka jenis mangrove yang umum ditemukan adalah Sonneratia alba, Avicennia marina, dan Osbornia octodonta, dengan substrat lumpur berpasir. Mengarah ke tengah dengan elevasi sedikit naik atau zona minor, sering dijumpai Rhizophora sp namun seringkali kita mendapatinya pada area menjorok seperti kubangan dengan substrat lumpur.

Barulah mengarah ke daratan, dengan leveling yang lebih tinggi, ditemukan jenis mangrove asosiasi seperti Pandanus tectorius, Terminalia catappa, dan Excoecaria agallocha. Dalam satu kelompok kami membagi tugas, ada yang menghitung MSL, mencatat, dan mengidentifikasi biodiversitas yang ada, aku mengambil peran mengidentifikasi jenis-jenis mangrove. Karena baru itu keahlian ku hehe.

Dua kelompok lainnya juga melakukan hal yang sama, namun dengan alat dan lokasi yang berbeda. Ketiga kelompok sibuk mengamati dan menganalisa temuannya. Kami saling berbagi peran dan belajar. Jika ada bagian yang tidak dipahami kami para mentor pendamping kelompok akan membantu menjelaskan. Dua kelompok keluar masuk hutan, beberapa anggota kelompok lain ada yang terperosok lumpur, namun tetap aman dan malah menjadi bahan candaan. Namun kelompok ku, pakaian kami tetap clean and clear, karena Kak Akhzan tidak membawa kami ke dalam hutan yang berlumpur. Kami bertugas untuk mengukur elevasi di pinggiran pantai dan banyak diskusi terkait jenis-jenis mangrove.

Tidak terasa jam menunjukkan waktu ishoma, semua kegiatan diselesaikan dan kami melakukan istirahat di Rumah Bambu milik Blue Forests. Rumah singgah ini digunakan setiap ada kegiatan. Memiliki konstruksi yang kokoh karena hampir 90% terbuat dari material bambu. Di samping rumah ada kandang ayam dan kebun pangan yang menarik perhatianku. Di dalamnya ditanam berbagai sayuran hijau seperti kangkung, bayam, singkong, pepaya, cabai, dan tomat. Bunga matahari yang sedang mekar menambah manis kebun ini.

“Kebun ini dibuat untuk membuktikan bahwa meskipun tinggal di pulau dan dekat pesisir, kita masih bisa berkebun untuk ketahanan pangan rumah sendiri,” kata Kak Fatim. Di sana kami makan siang dengan hidangan seafood, kepiting, udang, cumi dan beberapa lauk sayur masakan kelompok UMKM binaan Blue Forests. Setelah kenyang makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi dan menggambar terkait hasil temuan yang dilakukan di lapangan. Kami juga membuat gambar layout lokasi pengamatan. Elevasi digambar lengkap dengan ketinggian dan pembagian zonasi jenis-jenis mangrove, setelah itu presentasi satu persatu.

Mewakili kelompok 2, aku, Lutfi, dan Ferdy mempresentasikan hasil pengamatan dan menganalisa area pengamatan terkait kondisi saluran air dan gangguan yang terjadi. Di awal aku mendeskripsikan profil area pengamatan melintang dari hasil pengukuran dengan ketinggian masing-masing substrat yang berbeda. Ini adalah pertamakali aku pemaparan analisa teknikal, ternyata sangat menantang dan membutuhkan kombinasi kemampuan membaca grafik, pemahaman indikator, analisis data historis, dan berpikir kritis-objektif. Menyenangkan sekali!

Kami juga berdiskusi terkait zonasi mangrove dan refleksi lokasi tumbuhnya. Disimpulkan bahwa tidak semua tempat memiliki kesamaan, mangrove memiliki kemampuan dalam bertahan hidup yang adaptif terhadap substrat dan gangguan. Namun, mereka membentuk pola, inilah yang dijadikan sebagai pedoman untuk menganalisa syarat tumbuhnya.

Diskusi ditutup dengan kesimpulan bahwa kawasan Kuri Caddi merupakan salah satu site project Blue Forests yang dapat dikatakan berhasil. Terlihat dari kondisi pohon mangrove yang kian rapat dan sistem pola tanam polikultur, tidak melulu Rhizophora sp yang mendominasi, ada jenis-jenis lain yang akhirnya tumbuh alami. Itulah cara alam bekerja, menyeleksi yang mampu bertahan sesuai dengan fungsinya, di tempat yang tepat.

Day-3: Rehabilitasi Mangrove Tidak Harus Menanam

Jumat, 12 Desember 2025

Hari ini terakhir pelatihan, sedikit sedih karena aku masih haus akan ilmu rehabilitasi. Pukul 06.30 aku dan Tukik (room mate) sudah siap berangkat dari hotel. Kami menuju Rumata’ Artspace naik motor. Udara Makassar sangat ramah padaku, tidak seperti biasanya yang panas menyengat, itu info yang ku dapat dari Tukik.

Kami tiba di lokasi pukul 07.40 peserta belum banyak yang datang, maklum kemarin seharian kami praktik lapangan yang lumayan menguras energi. Beberapa ada yang datang telat karena terkendala hujan pagi. Atau pulas tertidur karena cuacanya sangat membuat mager beraktivitas. Kegiatan pagi diawali dengan coffee break, di meja panjang sudah tertata kue-kue tradisonal khas Bugis dan aneka rebus-rebusan. Aku sangat suka kue tradisional, apapun bahannya pasti ku makan. Maklum, sejak kecil nenekku sering membuat kue tradisional di rumah. Mulai dari yang berbahan ketan, pisang, labu, ubi, singkong, dan kacang-kacangan. Kali ini aku mengambil kue ikonik Bugis Barongko, terbuat dari pisang raja yang dihaluskan, dicampur telur, santan, dan gula, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus.Pukul 17.00 kami kembali ke Makassar, di sepanjang perjalanan angin laut membelai-belai wajah. Matahari perlahan sinarnya tidak lagi menyengat, kami terhanyut dalam senja yang syahdu untuk kembali pulang.

Kata Tukik dan Jiran, ini kue wajib yang ada kalau ada acara pernikahan di Makassar. Makan kue ini paling nikmat ditemani alunan lagu khas pernikahan yang syahdu. Tapi lebih enak disajikan dalam keadaan dingin.

Perut kenyang setelah menikmati kudapan kuw, materi EMR kembali dilanjutkan, mengawali sesi ada refleksi pembelajaran dari hari pertama dan kedua. Kami diminta untuk mengingat kembali materi-materi apa saja yang sudah disampaikan dan diserap. Panita membagikan link QR untuk menjawab soal-soal post test.

Selanjutnya masuk ke materi opsi teknik rehabilitasi mangrove dan EMR. Materi ini membahas tipologi potensi habitat mangrove dan opsi-opsi teknik rehabilitasi mangrove dalam pembelajaran global dan nasional. Kami masih menyimak materi yang dibawakan oleh narasumber Blue Forests dengan antusias, karena di tahap ini kami mulai memahami pendekatan EMR lebih dalam karena kemarin ke Kuri Caddi dan melihat langsung praktik di lapangan. Materi dijeda dengan ishoma dan sholat jumat, bagi peseta perempuan kami dipersilahkan untuk makan siang. Menu-menu yang disajikan juga sangat menggoda. Ikan asam manis saus nanas adalah menu incaranku, ada juga asinan sayur menu kesukaanku, dan yang membuat ku ketagihan adalah dessert es buah sirsak  jelly yang membuatku tidak malu mengambil tiga kali, hehe. Entah bagaimana bisa, begitu pertamakali aku mencicipinya lidahku langsung berkata “enak!!! ayo ambil lagi”. Sebelumnya aku tidak pernah mengambil makanan berulang pada acara makan-makan yang diselenggakan saat pelatihan. Pertama karena tidak berselera, kedua tentunya malu, aku selalu bisa menahan diri dan kadang memang tidak ingin. Tapi kali ini aku penuh semangat dan cuek, karena es buah sirsak jelly itu memintaku untuk kembali di-refill.  Setelah ku tanya dengan staff cateringnya, dia hanya mengatakan bahan-bahannya sederhana, hanya air, susu kental manis, sirsak yang dihaluskan, jelly, dan perasan jeruk nipis (lemo gona). Aku yakin, yang membuat es itu enak karena ada perpaduan rasa dan aroma antara sirsak dan jeruk nipis itu.

Kembali ke materi, pukul 14.00 kelas kembali dibuka, topik materi siang ini adalah merencanakan rehabilitasi mangrove dengan sub bab pengenalan 6 langkah EMR dan ada diskusi kelompok merencanakan rehabilitasi mangrove. Di sesi ini peserta diajak untuk belajar memilih lokasi yang telah direhabilitasi sebagai studi kasus pembelajaran. Kemudian dilanjut dengan diskusi kelompok yang membahas apa yang ingin dicapai, indikator berhasil dan faktor penentu keberhasilan.

Pada kesempatan ini kelompok ku mengambil contoh rehabilitasi mangrove di site Nusa Tenggara Timur (NTT) tempat aku melakukan program rehab lima tahun lalu, tepatnya di Desa Rabasa, Kab. Malaka. Tempat ini menjadi salah satu site target rehabilitasi mangrove. Pada diskusi kali ini peserta ditantang untuk menentukan teknik seperti apa yang cocok digunakan untuk rehabilitasi. Dengan cekatan kami membagi tugas antar anggota untuk membuat gambar peta area target rehab, jalur air, dan strategi apa yang dipakai untuk merehab lokasi tersebut.

Semua anggota tim dalam kelompok saling bekerjasama menentukan perannya untuk berkontribusi pada studi kasus ini, sebagian memilih berdasarkan keahlian atau latar belakang pendidikan kuliah. Ada yang berlatar belakang geografi memilih untuk menggambar peta, dan latar belakang biologi yang menentukan  area mana yang perlu ditanami. Diskusi berlangsung sangat seru.

Setelah diskusi selesai, dilanjut untuk memaparkan hasil diskusi kepada forum. Satu persatu kelompok memaparkan layout project yang dibuat dan saling memberikan respon serta tanya jawab. Diskusi diakhiri dengan pembahasan indikator berhasil dan faktor penentu keberhasilan kawasan rehabilitasi yang berfokus pada pemotongan tanggul tambak atau pintu air yang mengarah ke laut. Pemahaman kami terkait EMR kian jelas dipahami, praktik lapangan membuat EMR tervisualisasi karena melihat langsung praktik di lapangan. Mengetahui konsep, urgensi, dan tahapannya.

Menutup sesi terakhir ada refleksi pembelajaran selama tiga hari, evaluasi, dan pengumuman hasil hasil post test. Aku menjadi salah satu peserta dengan nilai terbaik, panitia memberikan  hadiah sebagai bentuk apresiasi. Kegiatan ditutup dengan pengambilan video kesan dan pesan dan foto bersama. Aku sangat menikmati materi-materi yang disampaikan, juga tidak sabar untuk membagikannya kepada teman-teman Levania, dan tentunya mempraktikannya dalam program rehabilitasi mangrove di LEVA.

Penulis: Nathasi Fadhlin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *