“Pagi di hari Minggu, 1 Februari 2026 berlokasi di Rumah LEVA. Suasana sudah terasa hidup bahkan sebelum jarum jam menunjukkan pukul sepuluh”.
Satu per satu anggota LEVA berdatangan, saling menyapa, mengisi daftar hadir, dan berbagi cerita singkat tentang harapan mereka di tahun kepengurusan yang baru. Suasananya santai, tetapi semangatnya terasa kuat. Ada rasa antusias sekaligus tanggung jawab yang hadir bersamaan.

Tepat pukul 09.00, kegiatan Orientasi Kepengurusan LEVA Tahun 2026 resmi dimulai. Acara dibuka dengan sambutan hangat yang disampaikan oleh Kak Nathasi yang menekankan pentingnya regenerasi dalam organisasi. Orientasi ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang untuk menyamakan arah, memperkuat komitmen, dan membangun fon dasi kerja yang lebih solid ke depan.

Sesi pertama diisi oleh Kak Hima yang memaparkan sejarah dan profil LEVA. Beliau membawa peserta menelusuri perjalanan Lestari Mangrove dan Alam (LEVA) sebagai komunitas orang muda yang berfokus pada pelestarian hutan mangrove di Indonesia. LEVA hadir dengan cita-cita menjadi “Professional Mangrove Advisor and Educator.” Sebuah identitas yang bukan hanya slogan, tetapi arah gerak yang ingin diwujudkan secara konsisten.

Secara kelembagaan, LEVA merupakan bagian dari PT Semesta Mangi Lestari, perusahaan jasa lingkungan yang berdiri pada tahun 2020 dan kini dikenal sebagai bagian dari gerakan sustainability preneur atau green job. Melalui pendekatan pariwisata berkelanjutan, LEVA menunjukkan bahwa aktivitas wisata dapat menjadi kontribusi nyata dalam menjaga dan melestarikan alam secara bertanggung jawab. Dalam penjelasannya, Kak Hima juga menegaskan visi LEVA, yaitu menjadi komunitas yang mampu mengupayakan pelestarian hutan mangrove serta menjadi solusi bagi pihak yang ingin berkontribusi bagi alam. Untuk mewujudkannya, LEVA membawa lima misi utama; memperluas program rehabilitasi mangrove di seluruh Indonesia, membangun program pemberdayaan masyarakat, mencetak kader edukator mangrove yang profesional, membangun kemitraan dengan penggiat mangrove dan Kelompok Tani Hutan di daerah, serta mengembangkan kemitraan produk lokal.
Pemaparan ini tidak hanya memberikan pemahaman struktural, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki. Para peserta mulai melihat peran mereka sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar. Pukul 10.30, sesi dilanjutkan dengan materi Manajemen Organisasi yang disampaikan oleh Kak Nathasi. Materi ini menjadi bekal penting agar semangat yang besar dapat dikelola secara terarah. Ia menjelaskan pengertian manajemen organisasi, syarat dan jenis organisasi, sifat-sifat serta bentuk organisasi, hingga perangkat dan struktur organisasi yang efektif.

Pembahasan kemudian mengarah pada fungsi manajemen melalui konsep POAC; Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Dengan bahasa yang ringan dan contoh yang dekat dengan aktivitas LEVA, peserta diajak memahami bahwa organisasi yang baik bukan hanya tentang banyaknya program, tetapi tentang bagaimana setiap langkah direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi secara sistematis. Diskusi berjalan aktif, menunjukkan bahwa para anggota baru ingin benar-benar memahami perannya.
Setelah sesi manajemen, suasana kembali segar dengan materi Basic Grooming yang dibawakan oleh Kak Pras. Sebagai komunitas yang juga bergerak di bidang pariwisata berkelanjutan, penampilan profesional menjadi bagian penting dari identitas LEVA. Kak Pras menekankan bahwa sebagai pemandu wisata, kesan pertama sangat menentukan pengalaman wisatawan.

Penampilan yang rapi, bersih, dan sesuai dengan standar industri pariwisata akan meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pengunjung. Personal grooming bukan soal penampilan semata, tetapi cerminan sikap profesional dan rasa hormat terhadap wisatawan. Dengan menerapkan prinsip grooming yang tepat, seorang pemandu dapat menjadi duta yang handal bagi destinasi wisata, sekaligus membawa pesan pelestarian mangrove dengan lebih percaya diri.
Memasuki sesi berikutnya, peserta diajak kembali pada inti perjuangan LEVA melalui materi Mengenal Keanekaragaman Mangrove dan Perannya yang kembali disampaikan oleh Kak Nathasi. Ia menjelaskan pengelompokan mangrove menjadi dua, yaitu mangrove sejati dan mangrove asosiasi. Peserta juga mempelajari di mana mangrove dapat tumbuh, bagaimana proses adaptasinya terhadap lingkungan payau, serta beragam jenis mangrove yang ada di Indonesia.
Diskusi semakin menarik ketika membahas manfaat mangrove sebagai pelindung pesisir, penyerap karbon, habitat berbagai biota, hingga penopang ekonomi masyarakat pesisir. Namun, di sisi lain, ancaman terhadap mangrove seperti alih fungsi lahan dan pencemaran juga menjadi pengingat bahwa upaya pelestarian harus terus diperkuat. Sesi ini mempertegas alasan mengapa LEVA hadir dan mengapa setiap pengurus memiliki tanggung jawab yang nyata. Materi kemudian dilanjutkan dengan teknik monitoring yang disampaikan oleh Kak Wijaya. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan pentingnya pemantauan dalam kegiatan rehabilitasi mangrove. Monitoring bukan hanya mencatat pertumbuhan tanaman, tetapi juga memastikan keberlanjutan program dan efektivitas metode yang digunakan. Peserta diperkenalkan pada prinsip dasar pengamatan lapangan, pencatatan data, dan evaluasi berkala. Dengan pemahaman ini, diharapkan setiap kegiatan tanam mangrove tidak berhenti pada seremoni, tetapi berlanjut pada pengawalan hasil.

Sebagai penutup rangkaian orientasi, dilaksanakan Pemilihan Koordinator LEVA Tahun 2026. Para kandidat terlebih dahulu menyampaikan visi dan misi mereka, diikuti sesi tanya jawab yang berlangsung terbuka dan penuh rasa saling menghargai. Musyawarah dilakukan dengan suasana kekeluargaan, mencerminkan nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi oleh LEVA.

Hasil musyawarah menetapkan Kak Salsa Fitria Bella sebagai Koordinator LEVA Tahun 2026. Terpilihnya Kak Bella disambut dengan tepuk tangan dan senyum penuh harapan. Ia diharapkan mampu membawa LEVA semakin berkembang, memperluas dampak, dan tetap konsisten pada visi pelestarian mangrove.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan closing yang hangat. Meski sampai malam hari, semangat para pengurus baru justru terasa semakin menyala. Orientasi ini bukan sekadar serangkaian materi, tetapi proses membangun kesadaran, kapasitas, dan komitmen bersama. Kegiatan ini dihadiri juga oleh Kak Arin, Jeka, Ashila, Gilang, dan Kak Diego.
Dari Rumah LEVA, langkah kecil kembali disusun untuk perjalanan satu tahun ke depan. Dengan semangat profesional, ceria, dan penuh tanggung jawab, LEVA 2026 siap melanjutkan ikhtiar menjaga hutan mangrove Indonesia dan menghadirkan solusi nyata bagi alam dan masyarakat.
Penulis: Fauzan Nur Fadhlurrahman
