Pada Minggu, 19 April 2025, dalam rangka menyambut Hari Kartini dan Hari Bumi, LEVA menggelar Jakarta Mangrove Tour Vol. 1 dengan tema “Peran Perempuan Dalam Dunia Konservasi”. Kegiatan ini dilaksanakan di Kawasan Hutan Lindung, Pos 2, Angke Kapuk, Jakarta Utara. Adapun rangkaian kegiatannya meliputi; talkshow, mangrove walk, dan mangrove planting yang diikuti oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini terdiri dari tiga agenda utama yang saling berkaitan dan dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh, mulai dari diskusi, eksplorasi langsung, hingga aksi nyata.
Agenda Pertama: Talkshow & Sesi Tanya Jawab
Agenda pertama adalah talkshow interaktif bertema “Peran Perempuan Dalam Dunia Konservasi” yang menghadirkan dua narasumber perempuan yang berpengalaman di bidangnya. Narasumber pertama adalah Kak Nathasi dari LEVA, yang berbagi cerita dan pengalamannya dalam mengelola program konservasi dan edukasi mangrove di Indonesia. Dalam paparannya, Kak Nathasi membahas bagaimana LEVA membangun ekosistem komunitas yang inklusif, serta tantangan yang dihadapi perempuan dalam meniti karier di dunia lingkungan hidup, mulai dari tantangan di lapangan, hingga kiat-kiat berjejaring dengan komunitas, peneliti, kelompok petani mangrove di daerah, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Narasumber kedua adalah Kak Elisabet dari YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia), yang memaparkan pengalamannya dalam konservasi satwa liar, khususnya primata jenis Macaca di Indonesia. Kak Elisabet berbagi tentang proses rehabilitasi dan pelepasliaran primata yang memerlukan dedikasi jangka panjang, kesabaran, serta kepekaan tinggi terhadap kondisi satwa. Ia juga menyoroti pentingnya peran perempuan dalam riset lapangan dan manajemen konservasi, yang kerap membutuhkan pendekatan empatik dan kolaboratif.

Dalam sesi ini, kedua narasumber juga mendiskusikan isu-isu yang lebih luas, seperti pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di sektor lingkungan, bagaimana memulai perjalanan di dunia konservasi dari nol, serta strategi membangun komunitas yang berkelanjutan dan berdampak. Peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan selama sesi tanya jawab, menciptakan suasana diskusi yang hangat, terbuka, dan penuh semangat. Di akhir talkshow pihak YIARI memberikan kenang-kenangan kepada LEVA buku panduan Mitigasi Interaksi Negatif Manusia – Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Wilayah Urban.
Agenda Kedua: Mangrove Walk
Agenda kedua adalah mangrove walk, tur jalan kaki mengelilingi area di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk. Dipandu oleh fasilitator dari kakak-kakak LEVA, peserta diajak menjelajahi kawasan mangrove sambil belajar langsung tentang ekosistemnya.

Selama tur berlangsung, peserta mendapatkan penjelasan yang kaya akan informasi mulai dari jenis-jenis pohon mangrove yang dapat ditemukan di kawasan tersebut (seperti Rhizophora, Avicennia, dan Sonneratia), fungsi ekologis mangrove sebagai pelindung garis pantai, penyerap karbon, dan habitat bagi berbagai spesies, hingga manfaat sosio ekonominya bagi masyarakat pesisir. Tidak ketinggalan, peserta juga diperkenalkan pada fauna yang menghuni ekosistem mangrove, termasuk berbagai jenis burung air seperti kuntul, raja udang, dan pecuk padi, yang dapat diamati langsung di sepanjang rute tur.

Agenda Ketiga: Mangrove Planting
Agenda ketiga adalah sesi penanaman mangrove. Dengan antusias, para peserta turun langsung ke area penanaman, mempraktikkan cara menanam bibit mangrove yang benar sesuai arahan dari tim LEVA. Momen ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan, terutama bagi banyak peserta yang baru pertama kalinya menanam mangrove secara langsung.
Yang membuat sesi ini semakin istimewa, setiap bibit mangrove yang ditanam dilengkapi dengan nametag kecil bertuliskan nama penanamnya beserta harapan yang mereka titipkan untuk mangrove tersebut. Harapan-harapan itu beragam ada yang menulis “Semoga kamu tumbuh kuat dan menjaga pantai ini”, ada yang menuliskan nama orang terkasih sebagai bentuk dedikasi, hingga pesan-pesan sederhana namun penuh makna seperti “Tumbuh ya, aku akan kembali melihatmu.”

Kegiatan ditutup dengan peserta diajak mencoba berbagai produk olahan berbahan dasar mangrove, mulai dari sirup hingga camilan, sebagai bentuk pengenalan terhadap potensi ekonomi kreatif khas mangrove. Sesi ini sekaligus mengingatkan peserta bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan. Kegiatan pun diakhiri dengan pembagian goodie bag sebagai kenang-kenangan dari acara Jakarta Mangrove Tour Vol. 1 yang juga didukung oleh produk-produk Sariayu Marta Tilaar.

Secara keseluruhan, Jakarta Mangrove Tour Vol. 1 menjadi ruang yang bermakna, tempat belajar, berbagi, dan beraksi bersama untuk lingkungan. LEVA berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak orang, khususnya perempuan muda, untuk turut berkontribusi dalam dunia konservasi Indonesia.
Penulis: Bayu Ashila
