Ada banyak cara yang dilakukan penggiat, komunitas, maupun private sectors untuk memperingati Hari Mangrove Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 26 Juli. Salah satunya memahami makna di balik menanam mangrove yang dilakukan oleh Modena Indonesia sebagai perusahaan home appliances, pada Rabu, 22 Juli 2026 diKawasan Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk, PIK.
Kegiatan tur ini merupakan ceremonial event menanam lima bibit mangrove, mewakili penanaman mangrove yang dilakukan di Pulau Harapan Kepulauan Seribu sebanyak 500 bibit mangrove bersama CarbonEthics.
Pada kesempatan kali ini, lima orang peserta dari tim MODENA dipandu langsung oleh Nathasi untuk tur berkeliling TWA, AK sekaligus belajar mengenai siklus hidup mangrove.
Menariknya, MODENA dalam tiga tahun belakang sudah konsisten melakukan program konservasi mangrove melalui divisi sustainability. Brand yang bergerak di industri elektronik ini sadar bahwa langkah ini menjadi bagian dari kesadaran dan compliance perusahaan terhadap lingkungan.
Kegiatan diawali dengan edukasi terkait kawasan, perbedaan mangrove dan bakau, serta pertanyaan besar mengapa harus menanam mangrove di pesisir. Dari pertanyaan besar ini peserta mulai berpendapat kritis terkait hal tersebut. Sesi ini menjadi pembuka bagi peserta tur untuk mengenal mangrove lebih jauh.

Tur kali ini termasuk dalam private tour, layanan khusus dari jasa wisata yang ditawarkan oleh LEVA untuk grup-grup kecil yang ingin berwisata lebih intimate dan fokus pada konten interpretasi dari pemandu. Tujuan spot selanjutnya adalah area persemaian. Nathasi mengajak peserta untuk mengenal asal mulai mangrove tumbuh. Peserta diperkenankan memegang propagul dan menancapkannya pada polybag sebagai langkah pertama menyemai bibit mangrove. Sesi ini menjadi sangat hidup ketika peserta bertanya “Kenapa buah mangrove berbentuk propagul?”
Ada empat alasan utama yang menjadi alasan; pertama, Adaptasi Terhadap Lingkungan Ekstrem; propagul mempermudah perkecambahan langsung di tanah berlumpur, yang seringkali memiliki kadar garam tinggi dan terpaan gelombang, tanpa harus menunggu biji berkembang dari awal. Kedua, Kelangsungan Hidup Lebih Tinggi; Karena sudah berbentuk tunas muda saat jatuh, propagul memiliki kesempatan lebih besar untuk menancap dan tumbuh dengan cepat dibandingkan biji biasa yang rentan terbawa arus. Ketiga, Kemampuan Mengapung; propagul seperti Rhizophora memiliki bentuk buah ramping dan panjang, ini memungkinkan mengapung lebih lama dan terbawa arus hingga ke lokasi pesisir yang tepat untuk menancap. Keempat, Cadangan Makanan (Hipokotil); propagul menyimpan cadangan nutrisi yang cukup untuk bertahan hidup di awal masa tumbuhnya.
Propagul itu sendiri, terdiri dari beberapa bagian penting, yaitu buah, keping buah, hipokotil (batang muda), dan radikula (calon akar). Setelah matang, propagul akan jatuh dan menancap ke tanah, lalu membentuk tegakan murni. Interpretasi ini dijelaskan oleh Nathasi kepada peserta untuk mempermudah visualisasi terhadap alasan sebab akibat buah mangrove berbeda dengan pohon pada umumnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan menanam mangrove dan speedboat tour. Sesi ini juga menjadi hidup karena peserta banyak melihat burung-burung air dan fauna endemik hutan mangrove seperti ikan gelodok, ikan bulan-bulan, kepiting, dan biawak.
Peserta tur memahami bahwa rehabilitasi hutan mangrove tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Lebih dari itu, proses mangrove bertumbuh menjadi sebuah perjalanan perusahaan dalam mendukung bumi yang lestari untuk masa depan.
Selamat Hari Mangrove Sedunia !
Penulis: Nathasi Fadhlin
