Lompat ke konten
Home » Blog » Nature and Soul Series: “Reconnect with Nature, Reconnect with Yourself” Saatnya Memberi Jeda untuk Diri

Nature and Soul Series: “Reconnect with Nature, Reconnect with Yourself” Saatnya Memberi Jeda untuk Diri

Menjaga alam, menyelesaikan pekerjaan kantor, mengurus rumah, dan menjalani berbagai aktivitas setiap hari sering kali membuat kita begitu sibuk hingga lupa satu hal penting: diri sendiri juga membutuhkan jeda.

Di tengah rutinitas yang terus berjalan, kesehatan mental menjadi bagian yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Berangkat dari kesadaran tersebut, LEVA menghadirkan sebuah ruang untuk berhenti sejenak, bernapas, dan kembali terhubung dengan diri sendiri melalui kegiatan Pelatihan Manajemen Stres dan Psychological First Aid (PFA).

Mengusung tema “Reconnect with Nature, Reconnect with Yourself”, kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, di Rumah Leva, bersama Ibu Hastin Melur Maharti, M.Psi.T., Psikolog. Kegiatan dirancang tidak hanya untuk memberikan pemahaman, tetapi juga mengajak peserta mengenali diri dan mempraktikkan cara memberikan dukungan psikologis kepada orang-orang di sekitar.

Berawal dari Mengenal Diri dan Stres Kegiatan diawali dengan perkenalan dan suasana yang dibuat ringan melalui ice breaking. Peserta kemudian diajak melihat kembali pengalaman sehari-hari melalui pertanyaan sederhana mengenai stres: Apa yang biasanya membuat kita stres? Bagaimana kita meresponsnya? Dan apa yang selama ini kita lakukan untuk menghadapinya?

Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada pemahaman bahwa stres merupakan respons alami tubuh, baik secara fisik maupun psikologis, terhadap suatu sumber stres atau stressor. Stres dapat muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap tidak pasti, mengancam, atau berada di luar kendali.

Menariknya, stres tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Peserta mengenal dua jenis stres, antara lain; eustress, stres yang bersifat positif, dan distress, stres yang bersifat negatif. Dengan pemahaman tersebut, peserta diajak melihat bahwa cara kita menilai dan merespons suatu situasi turut memengaruhi bagaimana stres dirasakan.

Mengenali Cara Kita Menghadapi Stres Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi tekanan. Ada yang memilih bercerita kepada orang lain, mengambil waktu untuk menenangkan diri, menyusun kembali prioritas, atau langsung mencari solusi.

Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan berbagai strategi coping, mulai dari self controlling, seeking social support, accepting responsibility, escape-avoidance, planful problem solving, hingga positive reappraisal. Strategi tersebut membantu peserta memahami bahwa tidak semua masalah harus dihadapi dengan cara yang sama.  

Salah satu hal penting yang ditekankan adalah kemampuan untuk membedakan apa yang dapat kita kendalikan dan apa yang tidak dapat kita kendalikan. Peserta juga diajak untuk memahami kapan perlu menggunakan emotion focused coping dan kapan perlu menggunakan problem focused coping.

Self-Care Bukan Sekadar Memanjakan Diri

Di tengah kesibukan, self-care sering kali dianggap sebagai sesuatu yang mewah atau hanya dilakukan ketika memiliki waktu luang. Padahal, merawat diri merupakan salah satu bagian penting dalam menghadapi stres.

Melalui sesi ini, peserta diajak untuk mengenali kebutuhan diri dan memahami bentuk-bentuk perawatan diri yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pesannya sederhana: kita tidak harus menunggu benar-benar lelah untuk mulai menjaga diri.

Memberi waktu untuk beristirahat, mengenali emosi, berbicara dengan orang yang dipercaya, melakukan aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran lebih tenang, hingga mengambil jeda dari rutinitas merupakan bentuk perhatian kepada diri sendiri.

Menenangkan Diri Melalui Butterfly Hug

Setelah memahami konsep mengenai stres dan cara menghadapinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik sederhana untuk membantu peserta menenangkan diri, yaitu butterfly hug.

Dalam suasana yang lebih tenang, peserta diajak memberikan ruang untuk dirinya sendiri. Gerakan sederhana tersebut menjadi momen untuk berhenti sejenak dari kesibukan, mengatur napas, dan kembali menyadari apa yang sedang dirasakan. Sesi ini menjadi pengingat bahwa terkadang kita tidak membutuhkan sesuatu yang rumit untuk memberikan jeda kepada diri sendiri. Beberapa menit untuk berhenti dan hadir sepenuhnya bersama diri sendiri pun dapat menjadi bentuk self-care.

Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan berbagai strategi coping, mulai dari self controlling, seeking social support, accepting responsibility, escape-avoidance, planful problem solving, hingga positive reappraisal. Strategi tersebut membantu peserta memahami bahwa tidak semua masalah harus dihadapi dengan cara yang sama.  

Salah satu hal penting yang ditekankan adalah kemampuan untuk membedakan apa yang dapat kita kendalikan dan apa yang tidak dapat kita kendalikan. Peserta juga diajak untuk memahami kapan perlu menggunakan emotion focused coping dan kapan perlu menggunakan problem focused coping.

Self-Care Bukan Sekadar Memanjakan Diri

Di tengah kesibukan, self-care sering kali dianggap sebagai sesuatu yang mewah atau hanya dilakukan ketika memiliki waktu luang. Padahal, merawat diri merupakan salah satu bagian penting dalam menghadapi stres.

Melalui sesi ini, peserta diajak untuk mengenali kebutuhan diri dan memahami bentuk-bentuk perawatan diri yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pesannya sederhana: kita tidak harus menunggu benar-benar lelah untuk mulai menjaga diri.

Memberi waktu untuk beristirahat, mengenali emosi, berbicara dengan orang yang dipercaya, melakukan aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran lebih tenang, hingga mengambil jeda dari rutinitas merupakan bentuk perhatian kepada diri sendiri.

Menenangkan Diri Melalui Butterfly Hug

Setelah memahami konsep mengenai stres dan cara menghadapinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik sederhana untuk membantu peserta menenangkan diri, yaitu butterfly hug.

Dalam suasana yang lebih tenang, peserta diajak memberikan ruang untuk dirinya sendiri. Gerakan sederhana tersebut menjadi momen untuk berhenti sejenak dari kesibukan, mengatur napas, dan kembali menyadari apa yang sedang dirasakan. Sesi ini menjadi pengingat bahwa terkadang kita tidak membutuhkan sesuatu yang rumit untuk memberikan jeda kepada diri sendiri. Beberapa menit untuk berhenti dan hadir sepenuhnya bersama diri sendiri pun dapat menjadi bentuk self-care

Belajar Menjadi “Tempat Aman” bagi Orang Lain

Tidak berhenti pada pengelolaan stres pribadi, peserta kemudian diperkenalkan pada Psychological First Aid (PFA) atau Dukungan Psikologis Awal (DPA).

PFA merupakan bentuk pertolongan psikologis awal yang diberikan setelah suatu peristiwa terjadi atau ketika suatu kondisi terungkap. Tujuannya adalah membantu mengurangi dampak negatif stres dan mencegah kondisi kesehatan mental menjadi lebih buruk. PFA juga merupakan respons suportif kepada seseorang yang sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan dukungan.

Hal menarik dari PFA adalah bahwa memberikan dukungan psikologis awal bukan hanya tugas seorang psikolog. Siapa pun dapat memberikan dukungan, selama dilakukan dengan tepat dan tanpa memaksa orang lain untuk bercerita.

Peserta kemudian mengenal tiga tahapan sederhana dalam PFA, yaitu Look, Listen, Link.Look berarti melihat dan memperhatikan kondisi seseorang, termasuk keamanan, kesehatan, kondisi fisik, serta kebutuhan dasarnya. Listen berarti mendengarkan dan memberikan dukungan tanpa menghakimi. Tidak terburu-buru memberikan nasihat dan memberikan ruang kepada seseorang untuk berbicara ketika ia sudah merasa nyaman. Link berarti membantu menghubungkan seseorang dengan kebutuhan, layanan, keluarga, atau dukungan sosial yang sesuai.

Belajar Mendengarkan Tanpa Menghakimi

Salah satu bagian yang paling menarik adalah sesi role play secara berpasangan. Peserta diminta menceritakan sebuah permasalahan nyata yang tidak terlalu berat, kemudian pasangan memberikan respons berdasarkan prinsip-prinsip PFA.

Dalam sesi ini, peserta belajar bahwa menjadi pendengar yang baik bukan berarti harus selalu memiliki solusi. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan teman yang mau mendengarkan.

Bukan kalimat “Jangan menangis”.

Bukan pula “Kamu terlalu baper.”

Melainkan kalimat sederhana seperti, “Kamu sudah melakukan yang terbaik” atau “Kalau belum mau bercerita, tidak apa-apa. Kamu bisa menenangkan diri terlebih dahulu.”

Melalui role play, peserta dapat merasakan secara langsung bagaimana rasanya didengarkan dan bagaimana memberikan respons yang lebih suportif kepada orang lain.

Pulang Membawa Kesadaran Baru

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Namun, lebih dari sekadar dokumentasi, kegiatan ini meninggalkan sebuah pesan penting bagi setiap peserta: merawat diri bukan berarti berhenti peduli pada orang lain. Justru dengan memahami dan menjaga diri, kita dapat hadir dengan lebih baik bagi lingkungan di sekitar kita.

Di tengah pekerjaan, rumah, tanggung jawab, dan berbagai aktivitas yang tidak pernah benar-benar berhenti, mari belajar memberikan ruang untuk diri sendiri.

Karena terkadang, yang kita butuhkan bukanlah pergi jauh. Hanya perlu berhenti sejenak, bernapas, mendengarkan diri sendiri, dan kembali terhubung dengan apa yang benar-benar kita rasakan.

“Reconnect with Nature, Reconnect with Yourself”

Sebab menjaga alam adalah bentuk kepedulian terhadap dunia di sekitar kita. Dan menjaga diri adalah bentuk kepedulian terhadap dunia yang ada di dalam diri kita.

Penulis: Siti Suhro