“Interpretasi adalah kunci keberhasilan wisata berbasis ecotourism,”.
Pagi di hari Minggu 4 Mei 2025 sangat cerah, di bawah pohon sentigi yang rindang sekelompok bapak-bapak dari pengelola Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PRPM) Wisata Mengare, Tanjung Widoro Bungah Gresik, Jawa Timur, sudah berkumpul penuh semangat untuk menghadiri Pelatihan Eco Guide Eduwisata Pesisir dan Mangrove yang diinisiasi oleh Agrie Conservation.
Hari ini pengalaman spesial tim LEVA menjadi pemateri dan fasilitator pelatihan Eco Guide di Mengare. Mereka adalah Inge dan Prasetio, dua Levania yang memiliki spesialisasi dalam bidang edukasi mangrove dan guiding akan berbagi ilmu, pengalaman sekaligus belajar dalam pengelolaan wisata.
Peserta dikumpulkan dalam pendopo, dibuka oleh Mas Agus Satriyono dari Agrie Conservation. Mas Agus memberikan semangat kepada peserta agar dapat menyerap ilmu yang dibagikan dengan niat yang tulus. Usai sambutan, agenda dilanjut dengan ice breaking oleh Pras sebagai pemanasan dan menguji konsentrasi peserta.

Setelah ice breaking, kegiatan dilanjut dengan materi seputar pengenalan jenis-jenis mangrove dalam bahasa latin dan nama-nama lokal yang umum dikenal dan dipahami anggota kelompok, sekaligus praktik ke lapangan oleh Inge.
“Di bagian bawah daun Avicennia atau Api-Api terdapat kelenjar garam yang menjadi salah satu bentuk pertahanan dalam mengsekresi kelebihan garam. Bapak-bapak boleh coba dirasakan ya garamnya, jadi nanti kalau ada pengunjung yang datang bisa diberitahu dan minta mereka juga cicip,” ujar Inge.
Melibatkan panca indra adalah hal yang membuat pengunjung terkesan dan mengingat tempat yang pernah ia kunjungi. Cara ini sering kali dilakukan oleh tim LEVA dalam memandu wisata The Mangrove Explore.
Anggota kelompok antusias mencoba, padahal mereka sudah tahu akan hal tersebut, namun seringkali dorongan inisitasif untuk menjadikannya hal tersebut sebagai atraksi wisata tidak dilakukan, padahal akan menjadi nilai plus dalam wisata mangrove. Setelah berkeliling area Mengare, kegiatan dilanjut dengan tur menyebrang menggunakan perahu ke Pulau Exotic Mengare yang lokasinya tidak jauh dari PRPM.
Di sepanjang perjalanan Inge kembali melakukan interpretasi terkait ragam jenis burung-burung air dan aktivitasnya yang dapat ditemui di sekitar pesisir mangrove. Fenomena ini menjadi daya tarik wisatawan yang perlu diceritakan. “Sembari nyetir kapal bapak-bapak bisa cerita ke pengunjung dari mana burung-burung ini berasal, keluar jam berapa, dan di spot mana saja mereka biasa cari makan pak,” tambah Pras. “Nggeh mas, nanti coba kami praktikkan,” kata seorang anggota kelompok.
Kawasan Pulau Exotic Mengare adalah area pulau tak berpenghuni, dulunya menjadi tempat wisata yang dikelola oleh pengembang (investor). Namun dipertengahan jalan ada permasalahan yang mengharuskan tempat ini ditutup. Kini pulaunya menjadi sepi dan tidak ada aktivitas wisata. “Entah dulu ada masalah apa dengan pengembang, wisata jadi tutup,” ujar salah satu anggota.

Padahal, lanjut mas Agus, di sini bisa menjadi wisata sejarah karena terdapat Benteng Lodewijk. Benteng ini dibangun oleh Herman Wilem Daendles pada abad ke-19, tujuannya untuk mengawasi kawasan perairan Selat Madura dari aktivitas pasukan Inggris. Tur dilanjutkan dengan mengunjungi benteng, di pertengahan jalan mereka menjumpai sumur tua yang diperkirakan menjadi salah satu sumber air bersih pasukan yang mendiami benteng.

Dengan adanya spot-spot interpretasi, pemandu wisata dapat bercerita tentang spot tersebut. Dikembangkan melalui cerita yang menarik, mengupas lebih dalam asal usul dan kisah di baliknya. Hal ini yang menjadi nilai jual ecotourism.
Tim juga melakukan pengamatan biodiversity flora dan fauna yang ditemukan di Pulau Mengare, dan berdiskusi terkait sumber-sumber potensi yang ada, untuk dibuat satu narasi perjalanan dalam interpretasi. LEVA berharap dengan adanya pelatihan ini anggota kelompok terguggah membuat inovasi menjual paket wisata dengan menonjolkan kekhasan dan keunikan di PRPM Mengare yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.

Penulis: Nathasi Fadhlin
